Kisah
Kyai Mojo, Guru Spiritual Pangeran Diponegoro
Posted
by Bocah Angon 1 september 2016
Kyai
Mojo adalah salah seorang pahlawan penentang kolonial, bisa disebut guru
spiritual Pangeran Diponegoro bahkan salah satu pilar utama penyokong
perjuangan Sang Pangeran. Mengenai Kyai Mojo ini tercatat dalam sejarah sebagai
beikut :
Tertangkap
sekitar Nopember 1928. VOC merencanakan jika jalur pengamanan yang akan dipakai
yakni Semarang – Batavia – Ambon – Manado. Proses evakuasi menggunakan kapal
perang De Belona lalu dipindahkan ke kapal Mercury. Rombongan ini terbagi
menjadi dua. Kyai Mojo sangat dihormati oleh VOC sehingga dibuatkan sebuah
rumah tahanan baru yang terpisah. Tinggal di Batavia.
Pemberangkatan
ke Ambon dibagi menjadi dua tahap, menggunakan kapal Thalia. Rombongan pertama
berjumlah kira-kira 48 orang, rombongan kedua 25 orang: Kyai Mojo disertakan
pada rombongan kedua. Rombongan Kyai Mojo dikirim ke Ambon sekitar awal
Februari 1830. Jumlah pengikut yang ikut dikirim ke Ambon cuma 25 orang,
sisanya tinggal di Batavia. Rombongan ini akhirnya tiba di Manado sekitar bulan
Mei 1830. Kemudian beliau diasingkan di Tondano.
Istri
Kyai Mojo ditangkap usai perang selesai ( Februari 1831 ) dan dikirim ke
Manado. Istri Kyai Mojo yakni mantan istri Pangeran Mangkubumi. Di Tondano
beliau dikenal sebagai “mbah wedok”.
Di Tondano, Kyai Mojo dan 63 orang pengikutnya membangun mesjid yang dikenal sebagai Masjid Al-Falah, di tengah pemukiman yang sekarang disebut Kampung Jawa Tondano.
Di Tondano, Kyai Mojo dan 63 orang pengikutnya membangun mesjid yang dikenal sebagai Masjid Al-Falah, di tengah pemukiman yang sekarang disebut Kampung Jawa Tondano.
Komplek
makam Kyai Mojo berada di desa Wulauan, Kecamatan Tolimambot, Minahasa.
Kompleks makam dibagi menjadi dua bagian yakni makam tanpa cungkup dan makam
bercungkup.
Bangunan
bercungkup pertama, berada di bagian tengah adalah bagian tertinggi di areal
kompleks, ada sebelas makam. Bangunan cungkup kedua, terletak di sebelah timur
area cungkup pertama, begitu juga bangunan cungkup ketiga. Sisanya di areal
kompleks makam tersebut yakni makam tanpa cungkup.
Makam-makam
tersebut bisa dibedakan dari undaknya yaitu :Makam berundak sembilan, hanya ada
satu yaitu makam Kyai Mojo.
Makam berundak tiga berjumlah 47 buah, tanpa cungkup, tercatat nama-nama Mbah Rivai, Usman Wonggo, Ratep Suratinoyo, Mbah Rumbayan, dll.
Makam berundak tiga berjumlah 47 buah, tanpa cungkup, tercatat nama-nama Mbah Rivai, Usman Wonggo, Ratep Suratinoyo, Mbah Rumbayan, dll.
Makam
berundak dua berjumlah 60 buah, sejumlah diantaranya bercungkup, tercatat nama
Kyai Sepoh Baderan.
Makam berundak satu berjumlah 58 buah.
Makam tanpa undakan mencatatkan nama-nama Mbah Ranges, Usman Wonggo, Tumenggung Wayang, Ahmad Nurhamiddin, anak keturunan Kyai Pajang, jumlah tidak tercatat.
Makam berundak satu berjumlah 58 buah.
Makam tanpa undakan mencatatkan nama-nama Mbah Ranges, Usman Wonggo, Tumenggung Wayang, Ahmad Nurhamiddin, anak keturunan Kyai Pajang, jumlah tidak tercatat.
Cukup
sulit untuk membuat kategori tentang kompleks makam ini. Apa bedanya yang
bercungkup dan tidak? Apa maksudnya undak-undakan dibedakan menjadi dua, tiga
dan seterusnya? Cuma ada satu yang istimewa adalah makam Kyai Mojo (bercungkup
dan berundak sembilan!).
Mengingat
jumlah pengikut Kyai Mojo yang ikut dibuang ‘hanya’ 63 orang dan jumlah makam
di kompleks tersebut lebih dari 100, maka ada kemungkinan terdapat pejuang yang
lain yang turut dibuang di wilayah ini yang tak tercatat oleh administrasi VOC.
Adakah
kemungkinan lain? Bisa jadi sudah terjadi perkawinan antara para pengikut Kyai
Mojo dengan masyarakat asli Tondano yang membuat masyarakat berkembang dan
bertambah populasinya, sehingga tak hanya Kyai Mojo dan pengikutnya saja yang
dimakamkan di kompleks ini, melainkan juga anak keturunannya.
Satu
hal yang pasti adalah, seluruh makam menunjukkan ciri makam Jawa – Islam.
Catatan
Tambahan :
Komplek
Pemakaman Kyai Mojo tetap terjaga sampai sekarang oleh anak keturunan para pengikut
Kyai Mojo. Sungguh sangat kontras dengan junjungan Kyai Mojo sendiri… Pangeran
Diponegoro.
Versi
resmi Hindia Belanda yang tetap dipakai sebagai acuan mata pelajaran sejarah
sampai kini : Pangeran Diponegoro dipenjara dan dimakamkan di Makassar. Padahal
banyak bukti penelitian masa kini menyimpulkan bahwa P. Diponegoro (yang
dipanggil juga Ontowiryo) dimakamkan di Sumenep dalam kompleks makam istana,
beserta keluarga dan juga para pengikutnya.
- See more at:
http://dimensilain.com/kisah-kyai-mojo-guru-spiritual-pangeran-diponegoro
Comments