P. DIPONEGORO, SUNAN KALIJOGO, DAN RATU KIDUL
Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul) pernah dicuekin 2 kali oleh Pangeran Diponegoro. Pertama saat uzlah, dan kedua saat terjadi Perang Diponegoro. Dan Pangeran Diponegoro pernah dijumpai Sunan Kalijogo juga 2 kali. Pertama dalam mimpi sebelum berangkat uzlah, dan kedua seusai dari uzlah.
Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul) pernah dicuekin 2 kali oleh Pangeran Diponegoro. Pertama saat uzlah, dan kedua saat terjadi Perang Diponegoro. Dan Pangeran Diponegoro pernah dijumpai Sunan Kalijogo juga 2 kali. Pertama dalam mimpi sebelum berangkat uzlah, dan kedua seusai dari uzlah.
Lahir dengan nama Mustahar, kecil bernama Raden Mas Antawirya dan besar
bernama Bendara Pangeran Harya Dipanegara (lebih dikenal dengan nama
Diponegoro). Bahkan oleh kiainya dinamai Ngabdul Rahim (Abdurrahim) dan
oleh Sunan Kalijogo dinamai Abdul Hamid. Masih ada sebutan nama lain
seperti Herucokro dan lain sebagainya.
Meski anak keraton, seorang bangsawan, namun ia sejak kecil dididik di pesantren. Tempaan ilmu agama menjadikannya pemuda yang bersahaja, tidak sombong, sederhana, dermawan dan zuhud. Usai mondok di pesantren berusia 20 tahun. Lantas pengembaraannya baru dimulai setelah itu, sekitar tahun 1806.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa raja-raja di Jawa waktu itu dikenal melakukan persembahan/ritual khusus untuk Ratu Kidul di Pantai Selatan. Bahkan dikatakan Ratu Kidul adalah istri para raja Jawa. Ada rute khusus yang dilalui para raja itu dari keraton menuju Pantai Selatan. Rute itulah yang dipakai oleh Pangeran Diponegoro semasa uzlahnya menuju Pantai Selatan yang kemudian berakhir di Tegalrejo Magelang.
Perjumpaan pertama, Ratu Kidul datang menghampiri P. Dipenogoro dengan rupa yang sangat menawan dan pakaian mewah yang berkilauan. Disapa beberapa kali namun tetap diam, P. Diponegoro malah khusyuk dalam wiridnya. Ratu Kidul kemudian menghilang dengan menjanjikan esok akan datang lagi saat perang di Jawa bergolak.
Betul, perang Jawa yang dimaksud adalah Perang Diponegoro, terjadi 20 tahun kemudian pada tahun 1826. Itulah momentun Ratu Kidul menjumpai P. Diponegoro untuk kedua kalinya. "Tuan, sudikah kiranya hamba menolongmu. Prajurit-prajurit Tuan tidak perlu dilibatkan, cukup bala tentaraku yang menghadapinya. Saya jamin nantinya Tuan yang akan menang dan menjadi raja-diraja (sultan) tanah Jawa," rayu Ratu Kidul.
Jawab singkat Pangeran Dipenegoro, "Maaf Ratu, saya tidak butuh pertolonganmu. Saya sudah punya Sang Hyang Agung (Allah Swt.)." Kemudian Ratu Kidul pun menghilang tanpa membawa hasil. Wallahu a'lam. (Disarikan dari buku Takdir, karya Peter Carey)
Meski anak keraton, seorang bangsawan, namun ia sejak kecil dididik di pesantren. Tempaan ilmu agama menjadikannya pemuda yang bersahaja, tidak sombong, sederhana, dermawan dan zuhud. Usai mondok di pesantren berusia 20 tahun. Lantas pengembaraannya baru dimulai setelah itu, sekitar tahun 1806.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa raja-raja di Jawa waktu itu dikenal melakukan persembahan/ritual khusus untuk Ratu Kidul di Pantai Selatan. Bahkan dikatakan Ratu Kidul adalah istri para raja Jawa. Ada rute khusus yang dilalui para raja itu dari keraton menuju Pantai Selatan. Rute itulah yang dipakai oleh Pangeran Diponegoro semasa uzlahnya menuju Pantai Selatan yang kemudian berakhir di Tegalrejo Magelang.
Perjumpaan pertama, Ratu Kidul datang menghampiri P. Dipenogoro dengan rupa yang sangat menawan dan pakaian mewah yang berkilauan. Disapa beberapa kali namun tetap diam, P. Diponegoro malah khusyuk dalam wiridnya. Ratu Kidul kemudian menghilang dengan menjanjikan esok akan datang lagi saat perang di Jawa bergolak.
Betul, perang Jawa yang dimaksud adalah Perang Diponegoro, terjadi 20 tahun kemudian pada tahun 1826. Itulah momentun Ratu Kidul menjumpai P. Diponegoro untuk kedua kalinya. "Tuan, sudikah kiranya hamba menolongmu. Prajurit-prajurit Tuan tidak perlu dilibatkan, cukup bala tentaraku yang menghadapinya. Saya jamin nantinya Tuan yang akan menang dan menjadi raja-diraja (sultan) tanah Jawa," rayu Ratu Kidul.
Jawab singkat Pangeran Dipenegoro, "Maaf Ratu, saya tidak butuh pertolonganmu. Saya sudah punya Sang Hyang Agung (Allah Swt.)." Kemudian Ratu Kidul pun menghilang tanpa membawa hasil. Wallahu a'lam. (Disarikan dari buku Takdir, karya Peter Carey)

Comments