KH. SHOLEH, KIAI YANG HOBI MENULIS DAN MEMBAGIKANNYA GRATIS
Tidak banyak kiai yang memiliki waktu dan kemampuan dalam menulis buku. Tapi kiai di pesantren ini tidak semata menuangkan gagasan keagamaan lewat buku, juga membagikan karyanya secara cuma-cuma kepada masyarakat. Beliau adalah KH. Sholeh Bahruddin, Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Sengonagung, Purwosari, Pasuruan Jawa Timur. Baginya, menulis buku adalah sebagai panggilan jiwa sekaligus ingin meniru tradisi agung yang telah dilakukan para ulama terdahulu.
“Saya ingin meniru pengarang kitab Fathul Qarib, Fathul Mu'in dan lain-lain,” katanya kepada sejumlah Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (PW LFNU) Jawa Timur, beberapa waktu berselang.
Penegasan ini disampaikan Kiai Sholeh, sapaan akrabnya di sela-sela acara Pendidikan dan Latihan (Diklat) falakiyah yang diikuti ratusan peserta dari PC LFNU, utusan pesantren, pejabat kementerian agama, serta dosen sejumlah perguruan tinggi di pesantrennya.
Ia memandaskan bahwa para pengarang kitab atau muallif tempo dulu tidak sekedar menulis kitab, juga tidak berkenan menerima dan meminta royalti dari karya yang telah dibuat. “Justru dengan tidak meminta royalti seperti ini, maka manfaat karya-karya mereka bisa bertahan ratusan tahun bahkan hingga sekarang,” tandas Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan ini.
Kepada setiap peserta diklat falakiyah, Kiai Sholeh memberikan secara gratis buku berjudul Ensiklopedi Fikih Jawabul Masail Bermadzhab Empat. Buku setebal 572 halaman dan dicetak dengan hard cover ini disusun bersama para santri. Isinya adalah tentang tanya jawab hukum Islam terhadap berbagai masalah berdasarkan sudut pandang keagamaan. Mulai dari masalah internasional, kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, akidah, hinga persoalan amaliah ibadah sehari-hari.
Menurut Kiai Sholeh, buku-buku hasil karangannya memang sengaja dicetak dan dibagi-bagikan secara gratis. Bahkan sudah didownload di situs pesantren dan dapat dimanfaatkan oleh siapapun tanpa batas. “Yang penting asas manfaat. Boleh diperbanyak dan tidak perlu izin,” ungkapnya. Ia hanya meminta, kalau hendak diterbitkan lagi maka identitas Pesantren Ngalah sebagai penerbit bisa dihilangkan, lanjutnya.
Kiai Sholeh dan pesantren yang diasuhnya telah mentradisikan kegiatan menyusun, menerbitkan dan membagikan buku secara gratis sejak lama. Judul dan bahasan dari buku yang dihasilkan juga bervariasi. “Saya mendidik para santri agar memiliki kemampuan menulis dengan baik,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, kepada seluruh pengurus PW LFNU Jatim saat itu, Kiai Sholeh juga menghadiahkan satu buku dengan judul Sabilus Salikin. Buku setebal 791 halaman tersebut berisi tentang ensiklopedi thariqah (tarekat) yang berjumlah 31 aliran. Selain itu, di bagian awal dan akhir buku dijelaskan tentang esensi tasawuf dan tarekat serta tanya jawab masalah tarekat.
“Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi jawaban atas berbagai tuduhan terhadap tasawuf dan pengamal tarekat. Semakin banyak yang memanfaatkan buku tersebut tentu kian baik," pungkas Kiai M. Sholeh Bahrudin Kalam.
Profil Singkat KH. M. Sholeh Bahruddin Kalam
KH. M. Sholeh Bahruddin dilahirkan di desa Ngoro Kabupaten Mojokerto pada hari Sabtu, 25 Sya’ban 1372 H/9 Mei 1953 M. Ayahnya bernama KH. Mohammad Bahruddin (kelahiran Juwet Porong Sidoarjo 1346 H/1926 M) dan ibunya bernama Siti Shofrotun putri Kiai Imam Asy’ari Ngoro, Mojokerto, yang dikarunia 11 putra-putri, yaitu: KH. M. Sholeh Bahruddin, Muhammad Anshori, KH. M. Mansyur (tinggal di Ngembe Dlanggu, Mojokerto), Muhammad Ghufron (almarhum), Siti Maryam (tinggal di Carat Gempol, Pasuruan), Muhammad Dhofir (tinggal di Modopuro Mojosari, Mojokerto), Muhammad Ridwan, Ahmad Fatah, Siti Habibah, Muhammad Misbah (tonggal di Carat Gempol, Pasuruan) dan Siti Munifah.
Secara garis keturunan atau Silsilah Keluarga, KH. Sholeh Bahruddin masih merupakan keturunan Rasulullah Saw. yang ke-33, sebagaimana berikut:
1. KH. M. Sholeh Bahruddin
2. KH. M. Bahruddin Kalam
3. Kiai Kalam Arfi
4. Nyai Salimah
5. Kiai Sulaiman
6. Kiai Hasan Besari
7. Kiai Ya’qub
8. Kiai Muhammad Besari
9. Koai Anum Besari
10. Raden Ageng Abdul Rosyid
11. Raden Pangeran Santri
12. Raden Joko Tingkir
13. Pangeran Pandan Arum
14. Sayyid Maulana Ishaq
15. Sayyid Jamaluddin Husain
16. Sayyid Abdullah Khan
17. Sayyid Amar Abdullah
18. Sayyid Alwi
19. Sayyid Muhammad
20. Sayyid Alwi
21. Sayyid Muhammad
22. Sayyid Alwi
23. Sayyid Abdullah
24. Sayyid Ahmad Muhajir
25. Sayyid Hasan al-Bishri
26. Sayyid Tsaqib ar-Rumi
27. Sayyid Ali al-Uraidhi
28. Sayyid Ja’far ash-Shadiq
29. Sayyid Muhammad al-Baqir
30. Sayyid Zainul Abidin
31. Sayyidina Husain Ra.
32. Sayyidatina Fathimah az-Zahra Ra.
33. Sayyidina Muhammad Saw.
Sejak kecil Kiai Sholeh Bahruddin dididik langsung oleh ayahandaya sendiri serta para guru lainnya. Menginjak usia dewasa beliau disuruh ayahnya untuk belajar kepada Kiai Syamsuddin Ngoro, Mojokerto, yang merupakan pamannya sendiri. Setelah dirasa cukup beliau kemudia berguru pada beberapa kiai, diantaranya: Kiai Qusyairi (Mojosari, Mojokerto), Kiai Bahri (Sawahan Mojosari, Mojokerto), Kiai Jamal (Batho’an Mojo, Kediri), Kiai Musta’in Romli (Peterongan, Jombang), Kiai Iskandar (Kandangan Ngoro, Jombang), Kiai Mushlih (Mranggen, Demak) dan Kiai Munawir (Tegal Arum Kertosono, Nganjuk).
Selesai mendalami pendidikan agama di berbagai pesantren, pada tahun 1975 di usia 22 tahun, beliau menikah dengan Nyai Hj. Siti Sa’adah dari Krandon Kerjo Karangan, Trenggalek, yang juga bergaris keturunan Nyai Salimah. Dari perkawinan itu beliau dikaruniahi 10 anak: Siti Muthoharoh, Atik Hidayatin, Ahmad Syaikhu, Siti Faiqoh, Luluk Nadhiro, Ahmad Faishol (alm.), Siti Khurotin, M. Bustomi (alm.), Siti Hajar dan Siti Nuronia.
Adapun silsilah Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah Khalidiyah wal Mujadadiyah KH. M. Sholeh Bahruddin adalah sebagai berikut:
1. KH. M. Sholeh Bahruddin
2. KH. Munawir Tegal Arum
3. Syaikh Amnan Telu’ Ngawi
4. Syaikh Musthafa Tegal Arum
5. Syaikh Minhaj Kebunsari
6. Syaikh Muhammad Sholeh Kutoharjo
7. Syaikh Sulaiman Afandi Jabal Qubais
8. Syaikh Ismail Barwis
9. Syaikh Sulaiman Afandi Qarin
10. Syaikh Abdullah Afandi Makin
11. Syaikh Maulana Khalid al-Baghdadi
12. Syaikh Abdullah ad-Dahlawi
13. Syaikh Habibullah Syamsuddin
14. Syaikh Nur Muhammad al-Badwani
15. Syaikh Muhammad Syaifuddin
16. Syaikh Muhammad Ma’shum
17. Syaikh Ahmad al-Faruqi
18. Syaikh Muaiyididdin Muhammad al-Baqi
19. Syaikh Muhammad
20. Syaikh Darwis as-Samarqandi
21. Syaikh Muhammad Zahid
22. Syaikh Ubaidillah al-Akhrari
23. Syakh Ya'qub al-Jurkhi
24. Syaikh Alauddin al-Athari
25. Syaikh Bahauddin
26. Syaikh Amir Kalal
27. Syaikh Muhammad Baba as-Samasi
28. Syaikh Ali ar-Ramaitani
29. Syaikh Mahmud Anjar Panguni
30. Syaikh Arif
31. Syaikh Abdul Khaliq al-Fujdawani
32. Syaikh Yusuf al-Hamdani
33. Syaikh Abi Ali al-Fadhli
34. Syaikh Abi Hasan al-Khirkini
35. Syaikh Abu Yazid al-Busthami
36. Syaikh Ja’far Shadiq
37. Syaikh Qasim bin Muhammad
38. Sayyidina Salman al-Farisi Ra.
39. Sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq Ra.
40. Sayyidina Muhammad Saw.
41. Malaikat Jibril As.
42. Allah Swt.
Berikut adalah salah satu karya Kiai Sholeh yang bisa Anda download dalam bentuk PDF. Sebuah kitab berjudul Sabilus Salikin, namun yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penting untuk dibaca, bahwa:
1. Bagi pembaca kitab thariqah yang ditulis ini, dilarang mengamalkan kecuali sudah baiat kepada guru mursyid thariqah.
2. Bagi yang sudah baiat, dilarang untuk dzikir di maqam dzikir yang belum sampai pada maqam-maqam yang kami tulis, terkecuali yang sudah sampai yang diajarkan/diizinkan oleh guru mursyid.
3. Bagi yang sudah baiat thariqah dilarang membaiat dzikir kepada orang lain, terkecuali sudah menjadi mursyid.

Comments

Popular posts from this blog

batu berbentuk wajah manusia